Selasa, 10 Desember 2013

Cerita Seks - Birahi Kaka adik

Sepeda motor bekas pun akhirnya dibelikan
kepada kakakku Adi. Maksudnya, agar Kak Adi
boleh memboncengku ke sekolah, kemudian
dia pun meneruskan ke sekolahnya di STM.
Bila pulang sekolah, aku menunggunya, kami
pun kembali berboncengan pulang kembali ke
rumah. Dengan uang Rp. 10.000, kami boleh
sekolah berdua dengan aman. Selama ini,
bapak kami harus mengeluarkan uang sebesar
Rp. 30.000,- per hari buat kami berdua.
Kak Adi sekolah kelas 3 STM dan aku kelas 1
SMP. Jalan menuju jalan besar, sedikit
berlubang dan dikuatkan dengan batu-batu
kerikil. Mulanya, aku sangat takut dengan
lubang lubang itu, membuat aku harus
memeluk kuat Kak Adi di boncengan.
Sebulan setelah itu, keadaan biasa-biasa saja.
Tapi lama-lama aku merasa sangat nyaman
dan enak, ketika jalan berlubang itu kami
lalui. Sepanjang 2 Km, tetekku yang mulai
membengkak tergesek-gesek di punggung
kakakku. Sampai akhirnya Kak adi sendiri yang
berkata:" Tuty, kakak senang sekali kalau kamu
peluk erat dari belakang."
"Kenapa kak?"
"Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Tetekmu
enak mengelus-elus punggung kakak," katanya.
Aku tersenyum. Ternyata buka aku saja yang
merasakan enaknya. Kak Adi juga.
"Aku juga," kataku polos. Dan kami pun
tersenyum berdua.
Pulang sekolah, ada sisa jajan, dan kami
duduk di warung di sebuah ketingian,
hingakami bisa menyaksikan keindahan
pohon-pohon sait yang baru ditanami, hijau
bergelombang di tanah yang berlembah dan
berbukit. Kami duduk di bawah pohon
rindang, memesan dua gelas es dawet dingin.
"Tut... kata orang, ciuman itu enak. Kami mau
kalau Kakak cium?" Kak Adi berkata seperti
kepada dirinya sendiri. Sepertinya dia ragu
mengucapkan kata-katanya. Aku tertunduk
malu. Padahal aku juga ingin dicium. Di kelas,
kawan-kawanku mengaku sudah punya pacar
dan sudah pernah berciuman. Dalam umurku
yang 13 tahun, aku sudah haid dan selalu
membayangkan Kak Adi mencium dan
memelukku.
"Kok kamu enggak menjawab," Kak Adi
mengusik lamunanku. Aku hanya tersenyum
dan tertunduk malu. Setelah melihat keadaan
aman di balik pohon besar tempat kami duduk
itu, tiba tiba Kak Adi mendekatiku dan
memelukku serta mencium bibirku. Aku
terkejut dan membiarkannya. Bibirku bagian
bawah dia sedot-sedot sembari tangannya
mengelus tetekku dari luar. Uuuhhh... aku
melayang. Kami pun saling menatap,
kemudian aku tertunduk malu dan tersenyum.
"Kapan-kapan lagi ya?" Kak Adi membisikiku.
Kami pun pulang karena takut terlambat di
rumah. Sudah diberikan sepeda motor, malah
terlambat.
Kami makan bedua, lalu Kak Adi mau ke
ladang memindahkan lembu yang biasanya
terikat di ladang. Dia hanya mengenakan
celana pendek. Ibu kami asyik dengan
jualannya pada warung di depan rumah kami.
Dia menjual gado-gado dan pecel serta ayah
berada di sawah, karena sebentar lagi musim
tanam padi.
"Mak, aku boleh ikut Kak Adi memindahkan
lembu ya. Kasihan setiap hari Kak Adi
memindahkan sendiri lembu-lembu itu,"
kataku. Ibuku tersenyum.
"Kalau semua kerjaan di rumah sudah selesai,
ya sana ikut Kak Adi mu," kata ibuku. AKu pun
ikut dengan Kak Adi. Kami berjalan cepat-
cepat. Lembu-lembu kami pindahkan bersama
ke tempat yang agak teduh dan rumput yang
segar. Tiga ekor lembu yang setiap pagi
dibawa oleh ayah ke ladang, siang dan sore
Kak Adi yang memindahkannya dan
mebawanya pulang ke kandang.
Usai memindahkan lembu-lembu itu, kami
duduk di bwah pohon manga yang subur dan
lebat. Sunyi sekali saat itu. Kak Adia
mengajakku ke rumput bambu yag lebat. Ada
beberapa rumpun babmu besar di ladang kami
yang luas. Sepi dan sunyi. Kak Adi memelukku
dan bibir kami berpautan. Lidah Kak Adik
bermain-main di dalam rongga mulutku.
Tangannya mengelus-elus tetekku.
"Kamu lepas BH mu ya Tut. Kakak kau isep
tetekmu. Boleh ya...?" Aku menurut saja.
Kulepas BH ku dan kukantongi di celanaku.
Baju kaos oblongku disingkap ke atas dan
mulutnya mulai mengisapi pentil tetekku yang
mungil. Aku senang sekali. Kak Adi memelukku
kuat dan erat, aku membalasnya juga dengan
pelukanku. Semakin kuat Kak Adi memelukku,
aku juga semakin kuat membelasnya. Sebelah
tangannya mengelus-elus pantatku dan
memekku begitu rapat dengan burungnya,
walau kami sama-sama masih memakai
celana. Akhirnya Kak Adi melepaskan
ciumannya dan meregangkan pelukannya.
Kami kembali ke pohon mangaa yang rindang
mengamati lembu kami asyik memamah
rumput segar. Tak lama kami meliohat ayah
mendekati kami. Untung saja, kami sudah
berada di bawah pohon mangga. Ayah
tersenyum melihat kami duduk berdua, dan
aku sedang membaca buku yang kubawa dari
rumah. Ayah kami mengira aku sedang diajari
oleh Kak Adi.
"Nih... aku bawakan sebuah pepaya untuk
kelian. Aku pulang duluan, mau ke rumah
Pakde mu. Abangmu mau menikah, jadi aku
dan ibumu akan ke sana. Nanti malam baru
pulang," kata ayah sembari menyerahkan
sebuah pepaya. Kami senang sekali. Begitu
ayah menjauh, Kak Adi membisikiku.
"Tut... aku masih mau lho... Kamu cebok dulu
ke irigasi. Cuci yang bersih tempemu,"
bisiknya.
"Mau diapai tempeku?"
"Sudah sana, nanti kamu tau sendiri." Aku
pun segera ke irigasi berair jernih itu dan
mencuci tempeku. Jaraknya hanya 20 meter
dari tempat duduk kami.
Kembali Kak Adi membawaku ke rumpu
bambu yang lebat dan kami masuk ke sela-
sela antara tiga rumpun. Di bwah bambu itu
bersih sekali. Aku ditidurkan Kak Adi di tanah
yang keras beralaskan daun pisang kering.
Kedua kakiku dikankangkan dan Kak Adi
berada di antara kedua kakiku. Dia mulai
menunduk dan menjilati tempeku.
"Kak... jijik, kak. Tempuku kok dijilati?"
"Kan sudah dicucui bersih tadi?"
"Sudah tapi...."
"Sudah diam saja. Pasti kamu nanti
ketagihan."
Aku membiarkan Kak Adia menjilati tempeku
dan benar saja, terasa nikmat sekali. Aku
menggelinjang-gelinjang dan kuelus rambut
Kak Adi. Sampai akhirnya aku menjepit kepala
Kak Adi dengan kedua kakiku dengan kuat dan
aku mengerang.
"Kak... AKu mau pipis..." akuterus menjepit
kepala Kak Adi dengan kedua kakiku dengan
kuat sekali dan kemudian aku lemas setelah
aku berada tinggi di atas awang-awang.
Saat aku lemas, Kak Adi melapas jilatannya di
Tempeku, kemudian dia menciumi bibirku,
tetekku dan memelukku kuat sekali, kemudian
dia pun melemas
Setiap ada kesempatan, aku dan KakAdi selalu
saja menyempatkan diri untuk melakukan
berbagai hal. Mulai dari berciuman, Kak Adia
menjilati Tempeku dan aku mengisap
burungnya serta banyak hal lagi.
Di ladang, aku diajari oleh Kak Adi membawa
sepeda motor. Ayah dan ibuku senang sekali,
melihat kekompakan kami berdua. Kak Adi
aternyata sangat menyayangiku. Mereka tak
tahu apa sebabnya. Pokoknya mereka senang,
melihat Kak Adia mengajariku naik sepeda
motor. Hari pertama biasa saja. Hari kedua
juga biasa saja. Hari ketiga juga dan beberapa
hari kemudian aku semakin mahir membawa
sepeda motor bebek itu.
Kak adi meminta agar aku membawa sepeda
motor ke rumpun bambu. Tangannya terus
mengelur tempe ku dari luar. Aku
mengelinjang. Bahkan tempeku menjadi basah,
karena elusannya itu. Sepeda motorpun kami
starndart kan di bawah rumpun bambu
sembari mengawasi lembu kami memakan
rumut.
"Selama ini, burung Kak Adi kan sudah laga
dengan tempe-mu Tut? Bagaimana kalau
burung Kak Adi dimasukin ke dalam lubang
tempe-mu...." Kak Adi membisiku. Aku
tersenyum.
"Terserah Kak Adi saja..."
"Tapi katanya sedikit sakit. Hanya sebentar
kok. Kalau sudah itu, lantas jadi enak?"
"Terserah Kak Adi saja."
Aku pun dibawa ke tempat biasa kami, yakni di
antara tiga rumpun bambu yang lebat dan di
bwahnya bersih sekali. Malah (pasti) Kak adi
sudah menyiapkan sebuah plasti untuk tempat
tidur. Aku terlentang. Kulepas celana dalamku
dan Kak Adi meliorotkan celananya sampai ke
dengkul. Kulihat Burung Kak Adi begitu keras
dan berdiri megacung. MUlanya dia menjilati
tempe-ku dengan rakusnya, sampau aki
merasakan melayang-layang. Kemudian dia
mendekatkan ujung burungnya ke tempe-ku.
Sebelah tangan kirinya mengarahkan
burungnya ke tempe-ku dan sebelah lagi
mendekapku. Perlahan ujung burung Kak Adi
menyeruak lubang tempe-ku. Aku menggigit
bibirku, karean terasa sakit.
"Sakit Kaaakkk..." Tekanan burungnya
terhenti, justru bibirnya dan lidahnya bermain
di mulutku. Kemudian dia menekan kembali
dengan terus sampai aku hambpir saja
menjerit karean menahan sakit dan perih. Air
mataku meleleh menahankan rasa sakit itu.
Kak Adi pun membelai kepalaku dan mencium
pipiku denganlembut. Sebentar lagi tak sakit
lagi, katanya. Setelah tetekku diisapinya,
kembali dia menerik burungnya dan kembali
menusuknya, menarik perlahan dan menusuk
perlahan dan seterusnya. Aku sudah mampu
merasakan perubahan dari sakit dan mulai
nikmat, sampai akhirnya, aku merasakan ada
lendir hangat memenughi ruang tempe-ku.
Cepat aku disuruhnya mencuci tempeku ke
irigasi. Aku melihat ada darah di air jernih itu.
Aku pun menyurun strategi, kalau ditanyai
kenapa jalanku seperti tidak normal. Benar
saja, ibu bertanya seperti apa yang
kubayangkan. Aku mengatakan, aku datang
bulan (haid) dan terasa sangat sakit. Ibu
tersenyum. Dia memberikan jamu agar rasa
sakitnya hilang dan darah lancar keluar. Aku
meminumnya, Tapi rasa nyeri masih juga ada.

Besoknya aku tidak sekolah. Aku kesepian, Kak
Adi tak ada bersamaku. Menunggu jam 13.30
rasanya seperti mau mati. Akhirnya yang
kutungu datang juga. Dengan pucat dia
bertanya.
"Gak apa-apa Kak." Aku kembali ikut ke ladang
memindahkanlembu. Bahkan aku diminta
membawa sepeda motor dan Kak Adi duduk di
belakang. Dengan janji di hadapan ayah dan
ibu, aku tak boleh membawa sepeda motor di
jalan Rasa karena belum punya lisensi untuk
itu. Aku setuju. Ayah dan ibuku tersenuk
gembira dengan peraturan yang dibuat oleh
Kak Adi.
Setelah seminggu tak ada lagi rasa sakit di
tempe-ku. Setelah memindahkan lembu, kami
ke dekat rumpun bambu. Kak Adi melapas
celana dalamku. Dia juga melorotkan
celananya. Di atas sepeda motor yang
berhenti kami dduk berhadap-hadapan. Kak
Adi mengangkat tubuhku ke atas kedua
pahanya. Perlahan burungnya memasuki
lubang tempe-ku. Kami berpelukan,
berciuman. Tangan Kak Adi meremas halus
tetekku dan menciumi bibirku, sampai
akhirnya kami sama-sama berada pada
kenikmatan kami beruda. Sperma Kak Adi
memenuhi lubang tempe-ku dan aku juga
lemas. Nikmat sekali. Dan tiga harui kemudian
aku haid. Aku melapor lagi pada ibu. Kata ibu,
kalau masih remaja tingting, haidnyabelum
teratur.
Kerig haidku. Aku minta lagi akan agar Kak Adi
memasukkan burungnya ke lubang tempeku.
Kak Adi memasang sarung pada burungnya.
Katanya biar tidak hamil. Aku setuju saja.
Di atas sepeda motor dengan alasan belahar
naik s3epeda motor, di bawah pohon rumpun
bambu, di rumah, di kamar mandi, bahkan
saat kami pulang sekolah, aku merasa sangat
bernafsu. Di atas sepeda motor aku bisiki pada
Kak Adi.
"Kak...aku mau burung Kak Adi dimasukin
sekarang..."
Cepat Kak Adia membelokkan sepeda motor ke
sela-sela sawit. Cepat dia mengambil sarung
burungnya yang terbuat dari karet itu. Saat itu
aku sudah melepas celana dalamku dan
memaskkannya ke dalam tasku. Kak Adi duduk
di tanah dan aku langsung menaiki tubuhnya,
menangkap burungnya, kemudian
mengarahkannya ke dalam lubang tempe-ku.
Tak lama, kemudian kami berdiri dan
berbenah dengan cepat, sepeda motor pun
kami naiki dan pulang k rumah.
Selepas makan, Ibu tidak membuka
warungnya, karean ikut bertanam pagi di
sawah. Kak Adi berbisik padaku.
"Kita ke kamarku yok... cepatan.." Aku
tersenyum. Padahal baru saja kami
melakukannya, tapi aku tau, kalau Kak Adi
memnginginkannya. Kami bertelanjang bulat di
atas tempat tidur Kak Adi, kami melakukan
persetubuhan dengan bebas dan buas sekali
Kak Adi menyetubuhiku. Aku sangat puas dan
puas. Kalau aku haid, dan Kak Adi
menginginkannya, dia minta burungnya aku
jilati dan kulum, sampai akhirnya spermanya
lepas dalam mulutku.
Tapi ketika aku sakit gigi dan tak mampu
mengulum burungnya, KakAdia
memasukkannya dari duburku. Aku merasa
sakit sekali. Kedua kali juga terasa masih sakit.
Mulai ketiga kalinya, aku merasa mulai nikmat.
Mulut tempe-ku dan duburku semua sudah
dimasuki burung Kak Adi. Aku memang
mencintai Kak Adi. Aku malah tak rela, kalau
Kak Adi nanti pacaran dengan perempuan lain
dan harus menikah dengan perempuan lain.
Kami pun sepakat, kalau sudatu saat kami
menikah, kami akan tetap melakukan hal yang
sama secara sembunyi-sembunyi. Aku setuju.

Cerita Seks - Kaka Ipar ku

Aku seorang lelaki berusia 35 tahun, sudah beristeri dan mempunyai 2 orang anak. Kehidupan rumah tanggaku tergolong normal normal saja termasuk dalam masalah kehidupan seks. Kata orang aku ini ganteng dan atletis, ditambah dengan kedudukanku di perusahaan yang cukup lumayan sebenarnya banyak sekali cewek yang naksir kepadaku, tapi aku ini type orang yang alim dan setia sehingga sampai saat ini tidak terlintas dibenaku untuk berselingkuh.

Sebagai laki laki normal tentu saja aku mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis terutama cewek yang cantik dan seksi, tapi sebatas hanya menyukai dan mengagumi kecantikan mereka, paling banter Cuma sebatas mengkhayal bisa bercumbu dengan mereka.

Salah satu cewek cakep yang paling aku sukai adalah kakak iparku sendiri yaitu kakak kandung isteriku. Orangnya cantik, putih mulus dengan tubuh yang sintal berisi sangat seksi sekali. Yang menambah rasa suka ku kepadanya karena sifatnya yang sangat terbuka suka bercanda, orangnya gesit sangat aktif dan mandiri. Secara fisik sebenarnya sangat mirip dengan isteriku, Cuma isteriku mempunyai sifat sebaliknya yaitu agak tertutup, pendiam dan sangat penurut.

Itulah yang kadang-kadang sering membuatku berkhayal bisa bercumbu dengan kakak iparku yang lincah dan energik. Aku suka mencuri curi pandang kalau pas ke rumahnya, maklum kalu dirumahnya dia suka pake baju daster rumahan, sering kalau lagi ngobrol bisa melihat pahanya atau teteknya kalau lagi nyuguhin air minum.

Sejauh ini aku Cuma bisa berkhayal, maklum aku dan kakak iparku sangat saling menghormati. O... ya kakak ipar umurnya sama denganku 35 tahun, sudah punya anak 2, suaminya sudah lama menderita diabetes berat, dan yang aku dengar dari isteriku suaminya tersebut sudah lama tidak bisa menjalankan kewajiban seksualnya. Dan hal itu menambah khayalku kalau kalau kakak iparku itu sudah sangat kesepian. Tapi karena orangnya sangat energik terlebih dia juga sibuk dengan pekerjaannya secara kasat mata dia tidak kelihatan sebagai wanita kesepian, malah kelihatannya hapy hapy saja.

Suatu saat keluarga besarku mendapat undangan pernikahan saudara sepupu isteri saya, kebetulan banyak anggota keluarga yang sedang berhalangan, sehingga diputuskan sebagai wakil keluarga yang berangkat adalah aku dan isteriku serta kakak iparku, anak anaku dijaga ibu mertuaku.

Tempat undangan lumayan jauh kira kira butuh waktu 24 jam perjalanan darat, sehingga kami berangkat 2 hari sebelum hari H biar cukup waktu apalagi aku biasanya gak kuat nyupir malam hari, biasanya kalau kemalaman biasa nginep dijalan.

Kami berangkat pagi pagi sekitar jam 8 bertiga naik mobilku, tak terasa perjalanan sudah melewati waktu magrib, dan seperti yang sudah direncanakan kami akan beristirahat di hotel di kota J. Karena sedang musim libur rata rata hotel disitu sedang penuh, setelah cari cari hotel yang lumayan bagus dan harga terjangkau akhirnya dapat juga kamar Cuma tinggal satu kamar saja. Daripada gak dapat kamar akhirnya kami putuskan untuk nginep satu kamar bertiga.

Kamarnya cukup besar dengan satu tempat tidur besar. Sebelum masuk hotel kami telah makan malam sehingga di hotel tinggal tidur beristirahat untuk persiapan melanjutkan setengah perjalanan lagi. Isteriku dan kakak ipar ku selesai mandi, wow... mereka pake daster tipis diatas lutut... tiba tiba kontolku ngaceng dan libidoku semakin memuncak apalagi seminggu lebih aku belum ******* karena isteriku baru selesai menstruasinya hari ini. Yang semakin bikin aku terangsang adalah kakak iparku, dengan wangi segar sabun mandi, paha mulus serta bayangan tubuhnya yang menerawang dari daster tipisnya sehingga bisa kelihatan bayangan celana dalamnya dan teteknya yang gak pake BH.
Untuk menyembunyikan kegelisahanku aku cepet cepet ke kamar mandi aku mandi sambil membayangkan tubuh kakak iparku.

Selesai mandi aku pake kaen sarung, sengaja gak pake pijama biar longgar dan lebih leluasa ngelus ngelus kontolku. Setelah ngobrol sebentar kami pergi tidur satu ranjang bertiga, kakak ipar disisi kiri, isteriku di tengah dan aku di sisi kanan. Kami berselimut bertiga pake bed cover yang sangat besat dan tebal, tiba tiba kakak iparku memadamkan lampu semuanya... sialannn... padahal aku berencana mau melihat tubuh kakaku ketika dia sedang tidur

Maksudnya mau cepet tidur biar bisa istirahat, tapi ternyata mataku sulit terpejam hasrat pingin ngentotku semakin menggebu apalagi obyek khayalanku tidur sekasur denganku meskipun terhalang oleh isteriku. Kutempelkan badanku ke badan isteriku kuelus pelan tetek nya dengan hati hati tanpa banyak gerak karena takut ketahuan kakak ipar, isteriku menepiskan tanganku sambil berbisik ”jangan macem macem gak sopan kalau kakak ku tahu”

Kujawab dengan bisikan yang sangat pelan ” pelase... aku kepingin sekali, ditempelin aja pelan pelan”.
Kupeluk hati hati, kuciumi wangi badanya sambil mebayangkan sedang menggerayangi kakak iparku. Kuangkat kain sarungku dan kusibakan kiri kanan lipatan depan celana dalam ku sehingga batang kontolku dapat keluar persis ditengahnya. Lalu kuangkat daster isteriku, kuraba raba pahanya kemudian kurenggangkan. Tiba tiba tanganku dicubit nya dengan keras seraya berbisik lagi ”Jangan kurang ajar !! .. apa mas gak menghargai mbak Dina”

Yah .... akhirnya aku bener bener gelisah menahan hasrat yang semakin memuncak, aku Cuma bisa ngelus ngelus kontolku entah sampai jam berapa, namun karena kecapean akhirnya aku ketiduran juga sampai akhirnya aku terbangun karena isteriku bergerak gerak, ooo... rupanya kebiasaan isteriku menjelang jam 5 pagi dia suka buang air besar, tapi sebelum ke wc dia biasanya nepuk nepuk dulu perutnya sampai terasa kebelet sekali baru ke wc.

Dan rupanya memang betul, gak lama kemudian isteriku mnyingsingkan selimut dan pergi ke wc, sebetulnya aku mau nerusin tidurku karena masih ngantuk, tapi tiba tiba deg..... jantungku berdesir dan kontolku berdiri tegak lagi, aku baru sadar kalau disebelahku terbaring kakak iparku obyek khayalanku selama ini. Dan seolah ide cemerlang itu mengalir begitu saja, aku tahu persis kalau isteriku beol tiap jam 5 pagi biasanya butuh waktu 1 jam lebih, entah ada kelainan psikologis apa betul betul ada kelainan pencernaan dia butuh waktu berlama lama di wc sampai merasa beolnya tuntas.

Memikirkan peluang dan kesempatan itu yang belum tentu akan terjadi lagi, entah kenapa keberanianku pun semakin besar. Yes...! aku harus mendapatkanya sekarang !!!!.
Namun demikian otaku masih berjalan waras, biar gak terjadi sesuatu yang fatal aku akan berpura pura kalau yang sedang ke wc itu adalah kakak iparku sedangkan yang masih tidur disebelahku adalah isteriku yes... !!!!.

Kubuka mataku lebar lebar tapi yang kulihat hanyalah siluet karena kamar cukup gelap, aku menggeliat mendekati tubuhnya, kupeluk badannya ser..... alangkah halus kulit tangannya, ku elus elus teteknya dengan lembut, kuciumi pipinya sambil kujilat cuping telinganya, sementara tanganku satunya menggerayangi bagian bawah... oooo rupanya dasternya telah terangkat keatas sehinga tangan ku langsung menyentuh gundukan daging memeknya.. tiba tiba kurasakan badanya mengejang pasti dia bangun dan kaget, tangannya menepiskan tanganku, kurasakan wajahnya menoleh kewajahku, sebelum teriak kupeluk erat badanya seraya ku berbisik ke telinganya ” ssstttt.... mah mumpung mbak Dina lagi ke wc, yok kita main sepukul dua pukul”.

”pleaseee ... kita kan uah seminggu lebih gak ngentot” lanjutku lagi...

Entah bagaimana mimik wajahnya saat itu gak bisa kulihat karena gelap, tapi dia gak berteriak meskipun pahanya mengepit lebih rapat dan tanganya masih memegang tanganku.

Kulepaskan tanganku lalu kuselusupkan kedalam celana dalamnya kurasakan jembutnya dan tanganku terus menjalar sampai kusentuh belahan memeknya, ku gosok gosok pakai jari tengahku.. ku putar putar itilnya... dia diam saja meskipun pahanya masih agak kejang...tanganku satu lagi kuselusupkan kedalam daster atasnya ku elus elus teteknya... sambil kupilin pilin putingnya... hhhmmmm sungguh sangat sensasional... tak kusangka sangka ternyata khayalanku menjadi kenyataan meskipun dalam kegelapan dan berpura pura dengan isteriku....

Kuusap usap terus belahan memek dan itilnya, kurasakan semakin banyak cairan yang membasahi memeknya....ohhh shhhh, pahanya semakin lemas dan rilek.....dan kudengar dia mendesah tertahan....

Karena sudah gak tahan dan takut isteriku keburu selesai, maka segera kulaksanakan hasratku, sarung kulepas sementara seperti tadi batang kontolku kukeluarkan lewat lipatan depan celana dalam riderku, pas keluar ditengah tanpa harus melepas celana dalamnya.

Kurenggankan pahanya lalu kuturnkan celana dalamnya sedikit sehingga dengan mudah kusibakan samping celana dalamnya.

Aku berlutut diantara kedua kakinya kuarahkan kontolku melalui pinggir celana dalamnya dan kutempelkan pas dibibir memeknya, kuusapkan kan kontolku sambil mencari celah lubangnya, setelah sedikit menyeruak kutekan pelan ....ooooohhhh shhh... nikmatnya sentuhan ujung kontolku dengan lapisan labia mayoranya....

Kutekan pelan, sambil kugoyang goyang kan.... shhhh baru masuk kepalanya .....kutekan agak keras.... sleps...... kudengar dia meringis pelan, mungkin agak sakit karena kontolku gede sekali sementara memeknya sudah lama tidak pernah dientotin...

Kutekan sambil ku goyang pelan pelan.... oohhh sleps.... sleps.... lama lama akhirnya kontolku amblas juga semuanya........

Ku dengar istriku di wc mengguyurkan air ... masih ada waktu seperempat jam lagi, biasanya isteriku dua atau tiga kali cebok sambil mengguyurkan air, sampai dia betul betul selesai...

Kupercepat kocokanku takut isteriku keburu keluar, sleps... sleps... plok..plok suara paha beradu...... semakin lama semakin licin memeknya dan semakin lancar kocokanku.... tiba tiba kudengar gyuran air isteriku kedua kali nya semakin kupercepat kocokanku... oooo nikmat yang luar biasa..... sensasi yang sangat menakjubkan..... rasa nikmat berpacu dengan rasa deg degan karena takut isteriku keburu keluar... semakin kupercepat kocokan ku ... sleps... sleps....semakin geli kurasakan kontolku dan mbak Dina juga semakin tegang pahanya mengepit ketat pinggulku.... semakin kupercepat kocokan ku dann.... ohhhh....... crooott.... ccrrrooottt air maniku menyembur banyak sekali demikian juga kedua paha mbak dina semakin keras mengepit pinggulku dan kedua tangannya mencengkram bahuku...sayup sayup kudengar dia mendengus tertahan......


Kurebahkan tubuhku diatas tubuhnya ... sambil kuciumi pipinya..... kontolku masih menancap sambil merasakan nikmatnya kedutan kedutan bagian dalam memeknya.....

Kuberbisik ke telinganya ” Mah.... enak sekali baru kurasakan nikmat seperti ini”

”Kok Rasanya beda ya... apa karena terburu buru takut ketahuan mbakDina ya” lanjutku lagi ber pura pura

”kok diam saja mah......” bisku lagi

Terdengar lagi guyuran air ketiga kalinya, berarti kali ini isteriku telah benar benar selasai.. cepat cepat kucabut kontolku dan bergeser ke samping. Tak lama kemudian isteriku keluar kamar mandi dan langsung nyalakan lampu seraya dia berkata setengah berteriak ” ayoo... pada bangun sudah siang Nih..... mandi.... mandi”

Kucoba lihat wajah mbak dina tapi gak kelihatan karena karena dia mehhadap kearah sana sementara wajahnya ditutup tangannya.

Terus aku pura pura kaget ” lho Mama to.. pagi pagi sudah ... mandi !!!!!!”

”Biasa ... beol” katanya santai. ”Mau sekalian mandi tapi handuknya ketinggalan”, katanya lagi

Setelah mendapat handuk isteriku masuk lagi ke kamar mandi. Dengan pura pura kaget dan penuh penyesalan kuhampiri mbak dina ku elus pundaknya ”Mbak maafkan aku.... suerrr... aku kira yang kekamar mandi tadi mabak Dina” ujarku...

Tiba tiba dia berbalik dan Plakk!!!! Dua kali tamparan hinggap di pipiku. Kulihat dia nagis terisak.. ”mbak plesae maafin aku, aku sungguh gak nyangka kalau yang tadi itu mbak” pura pura ku lagi.....

Karena situasinya gak memungkinkanm aku gak ngomong apa apa lagi , takut jadi rame malah ketahuan isteriku.....Rupanya Mbak dina pun berpikiran sama dia segera merapaihkan badan dan wajahnya terus siap siap dengan handuknya...

Begitu isteriku selesai mandi, mbak dina langsung ke kamar mandi. Itulah pandainya Mbak Dina sehingga hari itu berjalan seperti tidak ada apa apa, sepanjang perjalanan dia bersikap seperti biasanya. Kecuali pas kita berdua sikapnya jadi lain dan kulihat masih ada raut marah di wajahnya.

Setelah kembali kerumah, ketika ada kesempatan berdua aku ngomong lagi ke dia dan minta maaf kalau itu gak sengaja, terus kutanya kenapa mbak dina gak bilang waktu itu...
”gak enak, takut kamu malu” katanya ”lagian mbak pikir isterimu ke wc gak akan lama, jadi gak akan keterusan” lanjutnya.

Tapi aku gak tanya lagi kenapa dia juga jadi pasrah dan orgasme, itu kusimpulkan sendiri karena Mbak dina sudah lama gak dientotin suaminya, secara naluriah dia juga sudah kepeingin dan terangsang.Sekali lagi yang ini gak ku tanyakan takut dia malu dan tersinggung.

Cuma aku jadi menyimpan harapan, sebenarnya mbak dina kalau sudah terangsang mau juga dientotin tapi kapan kesempatannya, apalagi setelah peristiwa itu dia jadi agak menghindari berduaan denganku

Jumat, 16 Agustus 2013

Kisah Telor & Tempe Gosong ----



Suatu malam, ibu yang bangun sejak pagi bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu, jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah. sangat sederhana, berupa telor mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.

Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong.

Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak, minyak gorengnya sudah habis.

Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja pasti sudah capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telor gosong.

Luar Biasa!!!! ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, "Bu terima kasih ya..!" Lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya & adik di sekolah.

Selesai makan, di meja makan saya mendengar ibu meminta maaf karena telor & tempe yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan. "Sayang aku suka telor & tempe yang gosong"

sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada ayah, saya bertanya "apakah ayah benar2 menyukai telor & tempe gosong?"

Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya dan berkata "anakku ibu sudah bekerja keras sepanjang hari & dia benar-benar sudah capek. Jadi sepotong telor & tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun"

Ini pelajaran yang saya praktekkan di tahun2 berikutnya: "Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh & abadi.

Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berfikir dewasa. mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi, pasti punya alasan sendiri.

Janganlah kita menjadi orang egois, hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti.

Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan